Mahujali Talaohu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tengah saat didoorstop menanggapi temuan belatung pada kurma salah satu menu MBG di Masohi_Foto Kayum Ely/LIPUTAN.CO.ID.

Talaohu Sesali Ada Belatung Pada Menu MBG di Masohi, SPPG Tak Pernah Libatkan Dinkes

MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,- Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tengah  menyesali ada kejadian temuan belatung pada kurma salah satu menu makan bergizi gratis (MBG) di Masohi. 

Kepala Dinas Kesehatan Maluku Tengah, Mahujali Talaohu mengatakan pihaknya telah mendapatkan informasi adanya temuan tersebut. 

"Saya sempat dengar bahwa ada ulat pada kurma (pada MBG). Memang kita Dinas kendalanya di SPPG (tak ada koordinasi sebelumnya ). Seharusnya mereka itu koordinasi dan memang kita harus lihat (penyiapan MBG) dengan baik. Apakah Ibu Ibu yang mereka memasak itu sudah ada sertifikatnya atau belum," ujar Talaohu di Masohi, Kamis 31 Juli 2025. 

Dikatakan, Dinas Kesehatan Maluku Tengah selalu siap membantu SPPG dalam memastikan layanan MBG terhindar dari masalah kesehatan. 

"Kita tidak butuh uang, tidak butuh dibayar (dari SPPG), tapi minimal kita harus merekomendasikan (juru masak) yang betul-betul (penyiapan MBG) dia layak atau tidak. Karena ini untuk masyarakat banyak," tandasnya. 

Talaohu mengaku bingung terkait posisi Dinas Kesehatan dalam memastikan layanan MBG yang dilaksanakan oleh SPPG bentukan Badan Gizi Nasional. 

"Kita juga agak bingung (posisi Dinas) soal MBG  (harusnya Dinas terlibat pengawasan) kan seperti itu. SPPG ini ada satu titik di Letwaru, satu titik di Lesane, kalau tidak asalah ada satu titik di Hitu. Saya juga agak bingung kenapa mereka (SPPG) itu tidak datang ke kita," ungkapnya. 

Dinas pun pertanyakan petugas Gizi yang ada pada SPPG. Mestinya kata Talaohu, tidak ada penyajian MBG yang sudah kadaluarsa atau belatung pada makanan karena ada petugas Gizi di dalamnya. 

"Katanya mereka (SPPG) sudah punya bendahara satu dan tenaga gizi. lalu kenapa ada tenaga gizi itu (penyajian) bisa kecolongan (MBG yang ada belatung pada kurma)?," tanya Talaohu. 

Jali melanjutkan penyiapan MBG dilakukan oleh SPPG namun jika ada masalah yang muncul, publik menyalahkan pemerintah daerah. Padahal pemerintah daerah tidak dilibatkan secara langsung dalam menyajikan MBG. 

"Kita sesalkan itu kenapa mereka tidak koordinasi dengan kita yang baik itu untuk langkah-langkahnya (penyiapan MBG). Kita tidak butuh uang, tapi kan saat ada masyarakat yang sakit (akibat konsumsi MBG) kita (pemerintah daerah) yang disalahkan juga," imbuhnya. 

Mestinya SPPG berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan sebelum penyajian MBG itu penting agar Dinas bisa menjelaskan pengolahan makanan sesuai standar begitu juga para juru masak harus steril.

"Seharusnya dinas bisa pastukan orang yang mengolah MBG dia layak atau tidak, mereka bisa dapat bimbingan dari kita.  (Namun itu tak ada koordinasi  dari SPPG) padahal kita ngga butuh biaya juga (dari SPPG). Minimal mereka juga ada treaning juga karena soal kesehatan ini kan kita punya (pengetahuan)," tutupnya. 

Seperti diketahui, Sejumlah siswa SD Negeri 23 Maluku di Masohi alami sakit perut pasca konsumsi kurma belatung dari paket makanan bergizi gratis (MBG

‎Hal tersebut terkonfirmasi dari wali kelas VI SD Negeri 23 Masohi saat ditemui  di sekolah, Kamis 31 Juli 2025. 

‎"Kemarin ada salah satu anak usai makan buah kurma, ia keringatan seperti sakit. Saya langsung telepon orang tuanya dan langsung dibawa pulang," ujar wali kelas.

‎Turut memberi konfirmasi, kepala SD Negeri 23 Maluku Tengah, Siti Aisyah Tuasikal. 

‎Ia menerangkan, penemuan belatung tersebut oleh para siswa saat sedang menyantap makan bergizi gratis yang dibagikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

‎"Saat anak-anak mau makan kurma itu mereka temukan bahwa kurmanya ba-ulat," terang Kepsek.

‎Usai menerima keluhan dari siswa maupun guru, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan SPPG terkait.

‎Usai kejadian tersebut pihak sekolah berharap agar SPPG harus berhati-hati dan memperhatikan kehigenisan paket makanan MBG yang dibagikan.

‎"Kita pihak sekolah berharap harus sesuai dengan (standar gizi), karena anak-anak yang makan," harap Kepsek.

‎Dirinya juga mengharapkan agar kedepan tidak ditemukan masalah yang sama. 

‎Sementara itu, Koordinator SPPG Letwaru, Abdul Rasyid saat dikonfirmasi menyampaikan permohonan maaf kepada para orang tua. 

‎"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, kami menyadari ini murni kelalaian kami. Kami hanya bisa menyampaikan permohonan maaf yang paling tulus kepada semua pihak," ucap Rasyid.

‎Ia mengatakan bahwa masalah yang terjadi adalah kelalaian yang tidak bisa ditolerir. 

‎Olehnya itu, ia bersedia bertanggung jawab atas insiden penemuan belatung pada kurma yang disalurkan dalam paket makanan MBG. 

‎"Kami bersedia bertanggung jawab atas masalah yang terjadi," ungka dia.

‎Untuk diketahui, SPPG Letwaru baru beroperasi sejak 21 Juli 2025 lalu, dan telah menyalurkan MBG ke 13 sekolah dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA. (***)