-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Liputan Malteng 2026
MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,- Aksi pencurian yang menyasar etalase pedagang di dalam gedung Masohi Plaza (Maplaz), yang kini dikenal sebagai Pasar Binaya Tingkat, memicu keresahan mendalam di kalangan pedagang.
Para pedagang mempertanyakan minimnya sistem pengamanan di lokasi tersebut, padahal mereka rutin membayar retribusi setiap bulan.
Peristiwa pencurian ini terjadi pada Minggu dini hari, 24 Mei 2026, sekitar pukul 01:37 WIT. Tiga orang pria terekam kamera pengawas (CCTV) tengah menggasak isi etalase milik salah satu pedagang bernama Tuty dengan sangat sistematis.
Salah satu pedagang di Maplaz, Rudy Intan, mengaku sangat kecewa dengan lemahnya pengawasan di gedung tersebut.
Menurutnya, insiden ini merupakan dampak langsung dari tidak adanya petugas yang berjaga saat jam-jam rawan.
"Itu etalase milik Caca Tutie. Harapan kami sebagai pedagang itu aman. Artinya, keamanan harus ada yang menjaga di situ," ujar Rudy saat dimintai keterangan, Minggu 24 Mei 2026.
Rudy menyentil kewajiban pedagang yang rutin membayar retribusi, namun fasilitas keamanan yang didapat justru jauh dari harapan. Ia pun membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu di mana kehadiran petugas Satpol PP masih terasa.
"Jangan sampai, ini kan setiap bulan bayar retribusi yang dulunya itu ada Pamong Praja jaga, kok akhir-akhir ini tidak ada? Berarti ada apa?" tanya Rudy dengan nada heran.
Lebih jauh, ia menyoroti pola kerja petugas yang terkesan hanya formalitas.
Berdasarkan pengamatannya, petugas yang dibayar oleh Disperindag tersebut diduga hanya datang saat jam operasional pasar tutup untuk sekadar membuka atau menutup pintu, bukan untuk melakukan pengawasan aktif.
"Penjagaan di dalam itu tidak ada. Jadi intinya, keamanan saja yang harus diperketat. Kalau sudah ada kejadian begini, pelaku sudah tahu jalan masuknya. Kalau tidak ada penjagaan, pelaku pasti akan beraksi lagi minggu depan atau minggu-minggu berikutnya," tegasnya.
Terkait akses pelaku masuk ke dalam gedung, Rudy menduga para pencuri tidak membobol pintu utama yang terbuat dari kaca, melainkan masuk melalui akses samping gedung.
"Kalau pintu masuk itu kan kaca, pintu keluar juga kaca, muka belakang kaca. Kemungkinan mereka masuk lewat samping. Mungkin dengan cara memanjat," jelasnya.
Meski menjadi korban, pihak pedagang disebut tidak melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Menurut Rudy, mereka merasa pesimistis karena pelaku beraksi menggunakan topeng, sehingga sulit untuk diidentifikasi melalui rekaman CCTV. Barang yang dicuri diketahui berupa berbagai aksesori elektronik.
"Tidak buat laporan polisi. Percuma saja kalau buat, belum tentu dapat. Karena saat itu pelaku pakai topeng, jadi tidak tahu wajahnya," tutupnya.
Sementara itu, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Maluku Tengah melalui Kepala Bidang Perdagangan, Ramly Marasabessy saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya sudah mengecek Lokasi tempat pencurian di Maplaz.
Namun meski begitu Ramli belum beri rinci soal kejadian tersebut.
Terkait dengan ada petugas Polisi Pamong Praja yang ditugaskan khusus jaga 24 tapi tidak jalankan tugas sebagai mana mestinya akan dijelaskan lebih lanjut.
"Memang dibayar khusus jaga 24 jam, tapi nanti lebih jelasnya akan disampaikan lebih lanjut besok," ungkap Ramly.