Background tampak tiga orang tak dikenal menggasak etalase di Maplaz dan foto depan Kasat Pol PP Maluku Tengah, Boni Kabrahanubun_FOTO ISTIMEWA.

Satpol PP Akan Kembali Berlakukan Jaga Malam Usai Kasus Pencurian di Pasar Masohi

 MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,- Pedagang mengeluh tidak ada sistim jaga malam oleh Pol PP di dalam areal gedung Pasar Binaya Tingkat Masohi. Hal itu disebut menjadi salah satu kesempatan terjadinya aksi pencurian oleh tiga orang tak dikenal di dalam gedung yang mayoritas menjual barang elektronik. 

Menanggapi keluhan tersebut, Kasat Pol PP Maluku Tengah, Boni Kabrahanubun, mengakui adanya keterbatasan personel yang membuat penjagaan malam di gedung Pasar Binaya Tingkat sempat ditiadakan. 

Namun, Kasat memastikan akan segera mengambil langkah konkret untuk menempatkan sistim jaga malam di gedung pasar yang sebelumnya bernama Maplaz (Masohi Plaza). 

"Dengan adanya kejadian pencurian tersebut, kami akan mengupayakan mulai bulan depan (Juni 2026) nanti ditempatkan dua orang setiap hari, baik siang maupun malam, untuk berjaga di Maplaz," tegas Boni saat dikonfirmasi, Senin, 25 Mei 2026. 

Di sisi lain, pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) melalui Kepala Bidang Perdagangan, Ramly Marasabessy, juga memberikan catatan terkait kinerja petugas. 

Ramly mengakui bahwa petugas yang ditugaskan di lokasi tersebut telah dibayar untuk menjalankan pengawasan 24 jam.

"Memang dibayar khusus jaga 24 jam," ungkap Ramly, mengisyaratkan adanya ketidaksesuaian pelaksanaan tugas dengan kewajiban yang dibebankan kepada para petugas tersebut.

Sebelumnya, terjadi aksi pencurian yang menyasar kios pedagang di dalam gedung Pasar Binaya Tingkat memicu keresahan mendalam di kalangan pedagang. 

Peristiwa yang terjadi pada Minggu dini hari, 24 Mei 2026 sekitar pukul 01:37 WIT ini membuat pedagang menuntut perbaikan sistem pengamanan yang dinilai sangat lemah.

Dalam rekaman kamera pengawas (CCTV), terlihat tiga pria beraksi secara sistematis menggasak isi etalase milik salah satu pedagang bernama Tuty. Barang-barang yang hilang diketahui berupa berbagai aksesori elektronik.

Salah satu pedagang di Maplaz, Rudy Intan, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas insiden ini. Menurutnya, lemahnya pengawasan di jam-jam rawan menjadi celah bagi pelaku kejahatan.

"Harapan kami sebagai pedagang itu aman. Keamanan harus ada yang menjaga di situ. Kami setiap bulan bayar retribusi, tapi kenapa akhir-akhir ini tidak ada petugas yang berjaga? Berarti ada apa?" ujar Rudy dengan nada heran, Minggu (24/5/2026).

Rudy menyoroti pola kerja petugas yang dinilai hanya formalitas. Berdasarkan pengamatannya, petugas yang seharusnya berjaga justru hanya datang untuk membuka dan menutup pintu, tanpa melakukan pengawasan aktif di dalam gedung. Ia menduga pelaku masuk ke dalam gedung melalui akses samping dengan cara memanjat, bukan membobol pintu utama.

Meski menjadi korban, pihak pedagang memutuskan untuk tidak melapor ke pihak kepolisian karena merasa pesimistis. Pelaku yang beraksi menggunakan topeng dinilai sulit diidentifikasi meski terekam kamera CCTV.