-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Liputan Malteng 2026
MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,- Riuh tawa anak-anak terdengar memecah keheningan pagi di halaman SD Negeri 285 Maluku Tengah, Desa Waling Spancibi, Kecamatan Kepulauan Banda, Selasa 28 Juli 2026.
Saat ini, ruang belajar mereka tak lagi dibatasi empat dinding kelas. Alam menjadi guru, permainan menjadi media belajar, sementara semangat para relawan menghadirkan pengalaman baru yang sulit dilupakan.
Momen tersebut menjadi bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira yang digagas Divisi Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika-Eropa bersama Kawan Alam Indonesia.
Melalui kegiatan Outing Class, para siswa diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan sekaligus belajar Bahasa Inggris dengan metode interaktif yang menyenangkan.
Bagi anak-anak di Pulau Rempah, kegiatan ini bukan sekadar belajar kosakata baru atau mengenal alam sekitar. Mereka diajak memahami bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, sementara kemampuan berbahasa Inggris menjadi bekal untuk membuka jendela dunia.
Kepala SD Negeri 285 Maluku Tengah, Nirwati Igret Rabiun, mengaku bersyukur sekolah yang dipimpinnya mendapat kesempatan menjadi bagian dari program pengabdian tersebut.
Menurutnya, kehadiran para relawan menghadirkan suasana belajar yang berbeda dan memberikan pengalaman berharga bagi para siswa.
"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Divisi Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika-Eropa dan Kawan Alam Indonesia atas perhatian dan kepeduliannya kepada anak-anak kami," ujar Nirwati.
Nirwati bilang, program ini menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus membuka wawasan baru bagi para siswa. Ia pun merasa bersyukur karena sekolah mereka menjadi bagian dari gerakan pengabdian masyarakat yang membawa semangat pendidikan, kepedulian lingkungan, dan penguatan karakter bagi generasi Banda Neira.
"Semoga kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak manfaat yang dirasakan oleh masyarakat," harap Nirwati.
Semangat yang sama disampaikan Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, Menurutnya, pendidikan lingkungan harus mulai dikenalkan sejak usia dini agar tumbuh menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
Ia menilai pembelajaran tidak cukup berhenti pada teori di dalam kelas, melainkan harus menjadi pengalaman yang menyenangkan melalui aktivitas langsung di alam.
"Anak-anak adalah generasi penerus yang akan menentukan masa depan lingkungan Indonesia. Karena itu, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi harus menjadi pengalaman yang menyenangkan melalui kegiatan di alam," jelas Wanda.
Co-Founder Kawan Alam Indonesia juga mengintegrasikan pembelajaran Bahasa Inggris agar anak-anak memiliki bekal menghadapi tantangan global tanpa kehilangan kecintaan terhadap lingkungan dan identitas daerahnya.
"Banda Neira memiliki kekayaan alam dan sejarah yang luar biasa, sehingga generasi mudanya perlu dipersiapkan menjadi penjaga sekaligus duta bagi daerahnya di masa depan," tandas Wanda.
Sementara itu, Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika-Eropa sekaligus Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia, Aurelia Arianti Vinton, menegaskan bahwa program tersebut merupakan bukti nyata kolaborasi pemuda Indonesia, baik yang berada di dalam maupun luar negeri, untuk bersama-sama membangun daerah.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah kepulauan merupakan investasi penting bagi masa depan Indonesia.
Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira merupakan bentuk pengabdian yang dibangun bersama sebagai ruang berbagi ilmu, pengalaman, dan inspirasi.
Ia percaya bahwa pembangunan Indonesia dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia di daerah, termasuk wilayah kepulauan seperti Banda Neira.
"Kehadiran PPI Dunia Kawasan Amerika-Eropa bukan hanya membawa semangat akademik dari mahasiswa Indonesia di luar negeri, tetapi juga membangun jembatan kolaborasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Bersama Kawan Alam Indonesia, kami ingin menghadirkan program-program yang berkelanjutan sehingga dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang," tutur Aurelia.
Program pengabdian ini berlangsung selama satu bulan di Banda Neira dengan melibatkan relawan dari berbagai disiplin ilmu.
Selain pembelajaran Bahasa Inggris dan pendidikan lingkungan, rangkaian kegiatan juga mencakup penguatan literasi, pemberdayaan masyarakat, dokumentasi potensi daerah, hingga pembangunan jejaring kolaborasi untuk mendukung kemajuan Kepulauan Banda.
Melalui semangat Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira, PPI Dunia Kawasan Amerika-Eropa bersama Kawan Alam Indonesia berharap gerakan ini menjadi investasi jangka panjang dalam melahirkan generasi muda Banda yang berkarakter, peduli terhadap lingkungan, berwawasan global, sekaligus mampu menjadi pelopor pembangunan berkelanjutan di tanah kelahirannya.
Di Pulau Rempah yang pernah menjadi pusat perdagangan dunia berabad-abad lalu, secercah harapan itu kini kembali tumbuh.
Bukan lagi dari pala dan cengkih semata, tetapi dari semangat belajar anak-anak, kepedulian terhadap alam, dan kolaborasi pemuda Indonesia yang datang membawa inspirasi untuk masa depan Banda Neira.