Saat Bulog Gudang Kobi serap gabah kering panen milik petani di Desa Waimussi, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi. Tampak Abdul Aziz, SCPP Perum Bulog Kanwil Maluku-Malut dan Kepala Dinas HTP Arsad Slamat pantau serapan gabah_FOTO ISTIMEWA

Petani Maluku Tengah Hasilkan 40 Ribu Ton GKP dan Ironis Serapan Gabah

MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,- Peningkatan produksi gabah oleh petani Maluku Tengah tepat di Seram Utara Timur Kobi dan Seti merupakan pencapaian tertinggi dalam musim tanam tahun 2025. 

Tadinya petani hanya bisa hasilkan 4 sampai 5 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Namun di musim tanam 2025 per hektar bisa hasilkan 6 samapi 7 ton GKP bahkan ada yang menyentuh 8 ton per hektar. 

Musim tanam satu petani seram utara Kobi-Seti menghasilkan 22 ribu ton GKP. Dan musim tanam dua hasilkan GKP sebanyak 20 ribu ton. 

"Musim tanam 1 hasilkan 22 ribu ton dan musim tanam 2 GKP 20 ribu ton," ujar Arsad Slamat, Kepala Dinas Hortikultura dan Tanaman Pangan Kabupaten Maluku Tengah. 

Peningkatan produksi gabah petani tak terlepas dari dorongan pemerintah. Baik dari sisi penyediaan fasilitas pendukung dan tambahan luasan garapan sawah oleh petani. 

Selain itu, faktor penting yang membuat petani giat menanam karena ada jaminan harga yang diterbitkan pemerintah yakni harga pembelian pemerintah (HPP) terhadap Gabah Kering Panen di angka 6500 per kilo.  

Bahkan pemerintah pun mewajibkan pembelian gabah baik oleh Bulog hingga tengkulak untuk membeli dengan standar HPP. 

Namun ironisnya, harapan tersebut tak dirasakan oleh semua petani padi yang menjual GKP dengan HPP. 

Selain Bulog yang hanya menyerap gabah petani dengan HPP secara terbatas, para tengkulak disinyalir tidak ingin beli gabah petani dengan standar HPP. 

"Bulog menyerap terbatas tapi tetap dengan harga pembelian pemerintah. Kalau tengkulak informasinya mereka menawarkan dengan harga 4000 sampai 4500 per kilo gabah kering panen," tambah Arsad. 

Yang lebih miris lagi, gabah kering giling (GKG) milik petani dibeli tengkulak dengan harga 6000. Padahal GKG mestinya sudah diangka 7 hingga 8 ribu per kilo. 

"Untuk semua petani selalu menjual kering giling nah untuk saat ini dibeli tengkulak dengan harga 6000 per 1 kg.  Janji-janji Pemerintah/Bulog tapi kenyataanya cuman bikin masyarakat petani kecewa," kata Komar, ketua Gapoktan Waiassi Kecamatan Seram Utara Timur Kobi kepada Liputan.co.id Kamis 22 Januari 2026. 

Karena tuntutan kebutuhan, petanipun terpaksa harus jual GKG dengan harga yang dipatok tengkulak apalagi Bulog tak melirik hasil panen petani Waiassi. 

"Bagaimana tidak kalau  petani harus jual paksa dangan har harga yang tidak sesuai karena dituntut kebutuhan kami sangat merasakan dan prihatin terhadap kesusahan dan kesulitan semua petani," tandas Komar. 

Bahkan Komar mengungkapkan, semenjak terbitnya Instruksi Presiden terkait dengan Bulog dan pembeli lainnya harus serap gabah petani dengan standar HPP, justru petani Waiassi tak dilirik Bulog musim tanam 2025 dan juga hasil panen per 21 Januari 2026.  

Padahal luasan tanam padi oleh petani Waiassi di atas lahan 225 hektar dengan hasil panen gabah per hektar 6 ribu ton. 

"Untuk (hasil panen gabah) Waiassi selama ini belum ada penyerapan dari Bulog," ungkap Komar. Satu sisi Tengkulak  tak patuh dengan HPP saat serap gabah petani. 

Jika kondisi yang dialami petani tidak diperbaiki terutama yang memiliki pengawasan dari pemerintah, petani padi setempat bisa alih fungsi lahan hal itupun bisa berujung petani tak bisa wujudkan swasembada pangan sebagaimana visi Prabowo. 

"Lantas bagaimana tentang swasembada pangan mau tercapai kalau nanti petani alih fungsi," tanya Komar. 

Sementara itu, Perum Bulog Kantor Wilayah Maluku-Maluku Utara mengakui serapan gabah di Maluku Tengah tahun 2025 hanya 140 ton 807 kg gabah kering panen.  

"Kalau beras produksi petani Seram Utara Kobi harga per kilo 12 ribu. itu terima di pintug gudang (Bulog di Kobi) yah. itu kami beli total 314 ton 950 kg. Kalau hitungan gabah setara 629 ton 900 kg," ujar Abdul Aziz, Manager Supplay Chain & Public Services (SCPP) Perum Bulog Kanwil Maluku-Malut. 

Sementara itu, serapan gabah panen 2026 yang merupakan hasil dari musim tanam dua tahun 2025, Bulog sudah serap 194 ton 438 kg gabah kering panen. 

"Data per 21 Januari 2026 untuk di Kobi kita  sudah serap gabah kering panen sebanyak 194 ton 438 kg. Untuk beras minggu ini kita sudah menyerap," tambah Aziz. 

Aziz pun tak menyangkal pembelian gabah ataupun beras di Maluku Tengah masih jauh dari hasil panen petani. 

Namun satu sisi kata dia, Bulog hanya sebagai stabilisator dan memiliki anggaran yang terbatas. Selain itu Bulog tak ingin mematikan investor swasta dalam hal ini tengkulak yang selama ini beli gabah petani. 

Bulog juga menghimbau para tengkulak agar beli gabah petani dengan harga pemerintah. Meski faktanya himbauan tersebut tak dipatuhi para tengkulak yang tetap beli dengan harga di bawah HPP. 

"Jadi gini, kita Bulog tetap beri peluang kepada swasta kita, terbatas dari sarana prasaran, anggaran. cuman 1 yang kita minta ke swasta beli gabah beli dengan harga penetapan pemerintah, bulog hanya sebagai stabilisator harga,"  tandasnya.