Mercy C. Barends Kembali Gelar Sosialisasi Empat Pilar di Maluku Tengah

MALTENG, LIPUTAN.CO.ID Anggota MPR RI, Mercy Chriesty Barends, kembali menyapa warga Maluku Tengah untuk yang kedua kalinya guna mensosialisasi empat pilar kebangsaan, yang berlangsung di Kecamatan Amahai, Kamis 22 Juli 2021.  

Sebelumnya tahun 2020, Anggota DPR RI Fraksi PDIP ini gelar sosialisasi yang sama di Maluku Tengah namun difokuskan di Kecamatan Kota Masohi.

Mercy menyampaikan pandangannya soal Empat Pilar Kebangsaan tersebut lewat virtual dari Jakarta. Sementara lokasi sosialisasi difokusakan di Hotel Lounusa Beach, Negeri Amahai. 

Sementara itu, Ketua DPC PDIP Maluku Tengah, Zeth Latukarlutu dan Kepala Kecamatan Amahai, Samuel Birahy sebagai pemateri lokal dalam sosialisasi tersebut. 

Ketua DPC PDIP Malteng, Zeth Latukarlutu.
Ketua DPC PDIP Malteng, Zeth Latukarlutu dan Kepala Kecamatan Amahai, Samuel Birahi. 

Dalam memaparkan empat pilar Kebangsaan, Mercy menekankan kepada peserta yang dihadiri Raja-Raja dan warga  bahwa lemahnya pengamalan empat pilar kebangsaan dipengaruhi sejumlah faktor.  

Yakni soal sosial, politik, pemahaman agama yang keliru hingga soal diskriminasi pembangunan antar wilayah yang bisa menimbulkan sikap anarkisme atau fanatisme daerah.  

Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini kata Mercy mengalami banyak tantangan baik secara internal maupun eksternal. 

Tantangan internal meliputi masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama serta munculnya pemahaman terhadap ajaran agama yang keliru dan sempit, pengabaian terhadap kepentingan daerah dan timbulnya fanatisme kedaerahan.  

"kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinekkaan dan kemajemukan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagai pemimpin dan tokoh bangsa serta tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal," ujar Mercy.  

Anggota MPR RI, Mercy Chriesty Barends beri materi dari Jakarta lewat virtual.

 

Sedangkan tantangan eksternal yakni pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin luas dan persaingan antarbangsa semakin tajam, makin kuatnya intensitas intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasional. 

Ia juga menegaskan bawah Konflik akarnya bukan karena pemahaman agama yang keliru tapi ada akar lain yakni diantaranya karena pembagunan yang diskriminatif dan juga soal politik. 

Ditambah lagi berhadapan dengan informasi hoax dan adudomda di media sosial.  

"Terhadap cara pandang Indonesia dan Maluku kita harus lihat dari kacamata entitas atau dalam hal ini mewujudkan kerja sama kita," harapnya.  

Oleh karenanya kata srikandi Maluku itu bahwa, Empat pilar kebangsaan ini sebagai solusi dan juga sekaligus menjadi dasar memperkuat integritas dan toleransi bangsa yang tujuannya untuk menciptakan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Empat pilar kebangsaan ini sangat perlu untuk terus kita sosialisasikan untuk menyatukan kita," tandas Mercy. 

Sementara itu baik Samuel dan Zeth mengatakan untuk memperkuat persautan dan kesatuan di Indonesia terkhusus Maluku maka perlu meneladani budaya peninggalan leluhur seperti budaya pela gandong. Dan itu harus diperkuat dengan menyadari bahwa perbedaan prinsip bukan berarti perpecahan namun berbeda tapi tetap bersatu.