Berjas dan kopiah Roesbani Silawane, Politisi muda Partai Golkar dan Angota DPRD Maluku Tengah_FOTO ISTIMEWA

Menghidupkan Spirit Pattimura dalam Politik Modern, Dari Parang Menuju Narasi Keadilan

Oleh: Roesbani Silawane

(Politisi Partai Golkar & Anggota DPRD Maluku Tengah). 

 

Tahun 1817 bukan sekadar catatan usang tentang mesiu dan benteng yang runtuh di tanah Maluku. Perjuangan Thomas Matulessy, yang lebih kita kenal sebagai Kapitan Pattimura, adalah sebuah manifesto etika dan strategi yang masih berdenyut kencang. 

Bagi politisi muda di era digital, sosok Pattimura bukan lagi sekadar simbol di lembaran uang kertas, melainkan kompas moral dalam menavigasi rimba politik modern.

Kolektivitas Melampaui Sekat Partisan 

Dahulu, Pattimura berhasil merajut persatuan di antara kerajaan-kerajaan di Maluku yang kerap berselisih. 

Ia menyatukan ego demi satu tujuan melawan penindasan. Di era sekarang, musuh kita bukan lagi penjajah berseragam, melainkan polarisasi yang tajam.

"Politisi muda harus mampu melampaui sekat-sekat partisan atau politik identitas. Tantangan zaman sekarang adalah bagaimana membangun koalisi lintas kelompok untuk isu-isu krusial dalam mengisi pembangunan," ujar Roesbani yang menekankan pentingnya inklusivitas. 

Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana Belanda berkali-kali mencoba melunakkan hati Pattimura dengan negosiasi dan suap. Namun, sang Kapitan memilih tiang gantungan daripada mengkhianati idealisme.

Dalam lanskap politik hari ini, integritas adalah mata uang paling berharga. 

Membangun rekam jejak yang bersih, transparan, dan memiliki akuntabilitas publik adalah cara terbaik menghormati pengorbanan di Benteng Duurstede. 

Nilai Pattimura mengajarkan kita untuk tidak menjual idealisme demi posisi atau materi sesaat. 

Pattimura tidak gentar menghadapi teknologi militer Belanda yang jauh lebih modern. Ia berani mendobrak tatanan kolonial yang mapan. 

Semangat "mendobrak" inilah yang dibutuhkan politisi muda saat ini yang sering kali terjepit dalam sistem politik senioritas yang kaku.

Namun, keberanian saja tidak cukup, Pattimura adalah seorang mantan tentara yang paham taktik dan administrasi. 

"Politisi muda harus memiliki kapasitas intelektual, literasi data, dan pemahaman regulasi yang mendalam. Perjuangan saat ini dilakukan di ruang legislasi dan ruang digital," tambahnya.

Mandat Regenerasi 

Membangun "Pattimura Muda" Sebelum eksekusi mati dilaksanakan, sebuah kalimat legendaris terlontar: "Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit.

"Ini bukan sekadar ramalan, melainkan mandat kaderisasi. Politisi muda memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi "pemain tunggal". Mereka harus membuka jalan bagi generasi di bawahnya melalui edukasi politik yang sehat bagi pemilih pemula dan komunitas akar rumput.

Pattimura modern tidak lagi mengangkat parang yang tajam secara fisik, melainkan mengangkat narasi keadilan, transparansi, dan kemanusiaan. 

Tantangan terbesarnya bukan lagi peluru Belanda, melainkan bagaimana menjaga api idealisme agar tetap menyala. 

Spirit Pattimura tidak boleh mati ia harus terus hidup dalam setiap kebijakan yang berpihak pada rakyat.