Manager Supplay Chain & Public Services (SCPP) Perum Bulog Kanwil Maluku-Malut, Abdul Azis_FOTO ISTIMEWA.

Kata Perum Bulog Kanwil Maluku-Malut Soal Belum Serap Gabah Petani di Januari

MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,- Perum Bulog Kanwil Maluku-Malut mengakui bahwa belum menyerap gabah hasil panen petani di awal Januari, karena masih menunggu Instruksi Presiden (Inpres) dan penugasan dari Badan Pangan Nasional (BAPANAS).

Manager Supplay Chain & Public Services (SCPP) Perum Bulog Kanwil Maluku-Malut, Abdul Azis, mengatakan bahwa Bulog telah melakukan rapat koordinasi dengan pemerintah provinsi, kepala dinas pertanian beberapa kabupaten, dan Gapoktan untuk membahas penyerapan gabah.

"Kami sudah siap menyerap gabah, tapi kami belum terima secara resmi Inpres tentang penyerapan gabah beras dari petani dan penugasan dari BAPANAS," kata Abdul Azis melalui sambungan telepon Senin 12 Januari 2026.

Abdul Azis menjelaskan bahwa Bulog telah mengajukan anggaran untuk penyerapan gabah di Provinsi Maluku dan berharap agar anggaran dapat segera turun sehingga penyerapan gabah dapat dilakukan.

"Beberapa kabupaten seperti Maluku Tengah, Buruh, SBB, dan SBT sudah mulai panen, dan Bulog secara infrastruktur sudah siap menyerap, tapi kami belum punya dasar penyerapan gabah termasuk soal anggaran," ujarnya.

Abdul Azis berharap agar Inpres dan penugasan BAPANAS bisa dikantongi sehingga Bulog dapat melakukan penyerapan gabah dengan harga yang sesuai dan memberikan manfaat bagi petani.

Sebelumnya, anggota DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo, meminta Perum Bulog mengambil langkah cepat untuk menyerap gabah petani di Maluku Tengah. Hal ini disampaikan setelah Wajo menerima keluhan dari para petani di daerah tersebut yang mengatakan bahwa hasil panen padi mereka belum ada pembeli.

"Kami minta ada respon cepat dari pemerintah maupun Bulog, karena jika gabah tidak diserap secara cepat maka petani akan mengalami kerugian karena gabah petani alami penurunan kualitas," kata Wajo kepada Liputan.co.id via telepon.

Wajo yang berasal dari daerah sentra produksi padi di Seram Utara itu pun mengatakan bahwa peningkatan panen gabah di Seram Utara tidak diimbangi dengan penyerapan yang memadai.

"Gabah yang tidak segera ditangani atau disimpan dengan benar setelah panen rentan mengalami penurunan kualitas akibat kadar air yang tinggi, serangan hama, atau tumbuhnya jamur," katanya.

Wajo khawatir jika hal ini terus berlanjut, maka semangat petani akan berkurang dan target swasembada pangan beras tidak akan tercapai. "Jika produksi banyak tapi tidak ada yang serap atau jual dengan harga murah berarti petani bisa rugi," tandasnya.