-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Liputan Malteng 2026
Oleh:
IRHAMDI ACHMAD, S.Kep.,Ns.,M.Kep
(Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Maluku Tengah)
Pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan setiap 2 Mei. Ia adalah momentum reflektif untuk mengukur kembali sejauh mana bangsa ini menunaikan amanat konstitusionalnya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam Pedoman Hardiknas 2026, pemerintah menegaskan bahwa peringatan 2 Mei merupakan penghormatan atas jasa Ki Hadjar Dewantara, pelopor pendidikan nasional yang lahir pada 2 Mei 1889, sekaligus peneguhan komitmen membangun manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.
Tema Hardiknas 2026, yaitu “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” sangat relevan dengan watak pendidikan Muhammadiyah yang sejak awal dibangun melalui partisipasi masyarakat, kemandirian umat, dan amal nyata.
Dalam konteks itu, kontribusi Muhammadiyah terhadap pendidikan Indonesia harus dilihat bukan hanya sebagai sejarah organisasi Islam, tetapi sebagai bagian penting dari sejarah pendidikan nasional.
Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912 di Yogyakarta, tetapi gerakan pendidikannya telah dirintis lebih dahulu melalui Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan.
Sekolah tersebut mula-mula berlangsung di ruang tamu rumah K.H. Ahmad Dahlan dengan fasilitas sederhana, namun membawa gagasan besar, mengintegrasikan ilmu agama, ilmu umum, kedisiplinan modern, dan pembentukan akhlak.
Secara argumentatif, di sinilah letak penting Muhammadiyah. Ketika pendidikan pada masa kolonial masih terbatas bagi kelompok tertentu, K.H. Ahmad Dahlan menghadirkan pendidikan sebagai jalan pembebasan sosial.
Ia tidak hanya mengajar agama secara normatif, tetapi membangun sistem pendidikan yang memadukan keislaman, ilmu pengetahuan, rasionalitas, manajemen modern, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Dalam sejarahnya, sekolah integratif pertama K.H. Ahmad Dahlan didirikan pada 1 Desember 1911 dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah; model ini menyatukan pendidikan agama dan pengetahuan umum, sebuah langkah progresif pada zamannya.
Fakta kontemporer menunjukkan bahwa kontribusi tersebut terus berlanjut dalam skala nasional. Muhammadiyah memiliki ribuan satuan pendidikan dari jenjang dasar hingga menengah.
Data Muhammadiyah tahun 2024 mencatat jumlah sekolah Muhammadiyah dari SD/sederajat sampai SMA/sederajat sebanyak 5.346 sekolah, terdiri atas 2.453 SD/MI, 1.599 SMP/MTs, dan 1.294 SMA/MA/SMK, dengan lebih dari satu juta peserta didik.
Publikasi lain pada Desember 2024 juga mencatat Muhammadiyah memiliki setidaknya 5.354 sekolah/madrasah dan sekitar 1.054.000 murid per April 2024. Perbedaan angka kecil ini menunjukkan adanya dinamika pemutakhiran data, tetapi substansinya sama.
Muhammadiyah adalah salah satu kekuatan pendidikan masyarakat terbesar di Indonesia.
Pada jenjang pendidikan tinggi, Muhammadiyah-’Aisyiyah juga menjadi aktor penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Pada Maret 2025, jumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah tercatat 162 PTMA, setelah beberapa proses konsolidasi dan merger untuk peningkatan mutu.
Data 2024 sebelumnya menunjukkan struktur PTMA mencakup universitas, sekolah tinggi, akademi, institut, dan politeknik, dengan ribuan program studi yang tersebar di berbagai daerah.
Ini menegaskan bahwa kontribusi Muhammadiyah tidak berhenti pada pendidikan dasar, tetapi juga masuk ke pendidikan tinggi, riset, kesehatan, teknologi, dan pengabdian masyarakat.
Hardiknas 2026 juga menekankan arah transformasi pendidikan melalui revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, dan kesejahteraan guru.
Tiga agenda ini sangat dekat dengan tantangan sekolah Muhammadiyah hari ini. Muhammadiyah tidak cukup hanya bangga dengan jumlah lembaga pendidikan yang besar.
Muhammadiyah harus terus memastikan kualitas pembelajaran, kompetensi guru, tata kelola sekolah, literasi digital, keamanan sekolah, dan keberpihakan kepada peserta didik dari keluarga kurang mampu.
Bagi Muhammadiyah Maluku Tengah, pesan Hardiknas menjadi semakin konkret. Daerah kepulauan memiliki tantangan khas, akses pendidikan yang tidak selalu mudah, kesenjangan sarana belajar, keterbatasan tenaga pendidik tertentu, serta kebutuhan memperkuat karakter generasi muda di tengah perubahan sosial dan digital.
Karena itu, amal usaha pendidikan Muhammadiyah di daerah tidak boleh hanya dipahami sebagai lembaga belajar, tetapi sebagai pusat pencerahan masyarakat. Sekolah Muhammadiyah harus menjadi ruang pembentukan iman, ilmu, akhlak, keterampilan hidup, kepedulian sosial, dan kecintaan kepada Indonesia.
Dalam pandangan Muhammadiyah, pendidikan bermutu bukan hanya pendidikan yang menghasilkan nilai akademik tinggi, tetapi pendidikan yang melahirkan manusia beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, sehat, dan bermanfaat bagi masyarakat. Inilah titik temu antara cita-cita pendidikan nasional dan misi Islam berkemajuan.
Pendidikan Muhammadiyah tidak menempatkan agama dan ilmu pengetahuan sebagai dua kutub yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya dipadukan agar peserta didik memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecakapan sosial, dan tanggung jawab kebangsaan.
Oleh karena itu, pada Hari Pendidikan Nasional, kita perlu menegaskan tiga sikap. Pertama, negara dan masyarakat sipil harus berjalan bersama. Pendidikan bermutu untuk semua tidak mungkin diwujudkan hanya oleh pemerintah; ia memerlukan partisipasi organisasi kemasyarakatan, keluarga, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas lokal.
Kedua, sekolah swasta berbasis masyarakat seperti Muhammadiyah harus dipandang sebagai mitra strategis bangsa, bukan sekadar pelengkap sekolah negeri.
Ketiga, Muhammadiyah sendiri harus terus melakukan tajdid pendidikan, memperbarui kurikulum, memperkuat guru, memperbaiki tata kelola, mengembangkan digitalisasi, dan memastikan sekolah tetap inklusif bagi semua lapisan masyarakat.
Dengan demikian, Hari Pendidikan Nasional adalah panggilan untuk kembali kepada hakikat pendidikan, memerdekakan manusia dari kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Muhammadiyah telah membuktikan selama lebih dari satu abad bahwa pendidikan adalah jalan dakwah, jalan kebangsaan, dan jalan peradaban.
Tugas kita hari ini adalah melanjutkan warisan itu dengan kerja yang lebih terukur, lebih bermutu, lebih inklusif, dan lebih relevan dengan zaman.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Dari Maluku Tengah, Muhammadiyah berkomitmen terus mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan kehidupan bangsa.