-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Liputan Malteng 2026
MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,-Sejumlah warga meyakini bendera merah putih berukuran 3×2 meter yang saat ini ada di Negeri Kobi Sadar, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Maluku Tengah, merupakan pemberian dari Ir. Soekarno kepada Raja Kobi, Khamis Kiahali dengan tujuan mensosialisasikan merah putih di dataran Kobi sekitarnya.
Bendera tersebut saat itu dibuka ke publik masyarakat Kobi, Rabu 10 Agustus 2022. Bendera tersebut sudah terlihat kusam dan ada yang sudah sobek.
Dandim 15 02 / Masohi, Letkol. C Z I Muhammad Yusuf Aska juga turut menyaksikan bendera yang baru dibuka ke publik tersebut.
Salah satu tokoh pemuda Kobi Sadar, Safii Boeng mengatakan bendera yang dibentangkan tersebut merupakan pemberian Ir. Soekarno tahun 1947 saat berkunjung di Geser, Seram Timur.
"Ini (bendera) merupakan pemberian Ir. Soekarno kepada salah satunya Raja Kobi (Khamis Kiahali)," ujar Tokoh Pemuda Kobi Safii Boeng, di Kobi Sadar, Rabu 10 Agustus 2022.
Menurut Boeng bahwa tak hanya satu, ada tiga bendera yang diberikan Soekarno kepada beberapa Raja tahun 1947 saat kunjungan pertama di Geser, Seram Bagian Timur, Maluku.
Kunjungan Soekarno tersebut kata Boeng, dalam rangka geopolitik Soekarno melawan Belanda yang mencoba rebut Irian Barat dari NKRI kala itu.
"Soekarno berkunjung di Geser itu dua kali. kali pertama tahun 1947, kunjungan ke dua tahun 1955. Waktu kunjungan pertama Soekarno didampingi Mayor Abdullah. Ia melakukan pertemuan terbatas dengan sejumlah raja-raja dataran Seram di Geser beberapa yang hadir diantaranya Raja Kilmuri dan Raja Kobi Khamis Kiahali," jelas Boeng yang juga saat ini sebagai Ketua KNPI Maluku Tengah.
Saat itu juga sejumlah pihak dari Republik Maluku Selatan (RMS) sudah bergerilia di dataran Seram untuk mendapatkan dukungan warga agar RMS dapat diakui dan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kemudian bendera tersebut kata Boeng sempat dikibarkan di dataran Kobi. Alih-alih ingin mendapat dukungan dari warga sekitar, sejumlah pasukan perlawanan dari Republik Maluku Selatan (RMS) melakukan perlawanan dan mengincar para pihak yang mensosialisasikan merah putih di dataran Seram Utara terutama yang memegang bendera tersebut.
"Jadi ada sejumlah tokoh yang gigih pertahankan bendera tersebut meski diincar pasukan perlawanan RMS. Para tokoh itu diantaranya, Raja Kobi Khamis Kiahali, Abdul Rahman Orobayan, Taher Boeng," ungkapnya.
"Karena dikejar-kejar dan demi menyelamatkan bendera pemberian Soekarno itu mereka kemudian lari ke Irian Raja Ampat tepat di Pulau Pisang dengan perahu dayung untuk sembunyi dari kejaran RMS. Menurut pengakuan ahli waris atau cucu dari para tokoh itu bahwa mereka ke Ternate di kesultanan Ternate, kemudian ke Makasar ketemu KOLONEL (Purn) Alexander Evert Kawilarang," jelas Boeng.
Soal keaslian bendera tersebut memang perlu untuk dibuktikan lagi. Baik soal hubungan para tokoh saat itu dan juga soal keaslian fisik bendera tersebut.
Sementara itu Dandim 1502/Masohi, Letkol. C Z I Muhammad Yusuf Aska yang hadir saat bendera tersebut ditunjukan ke publik mengatakan, soal keaslian bendera tersebut akan diuji lagi.
"Hal (bendera) ini akan kami laporkan secara berjenjang di TNI di Korem atau ke kepala Staf atau kita laporkan ke pemerintah Daerah dilihat secara bersama-sama," kata Letkol. C Z I Muhammad Yusuf Aska.
Di lain sisi, Dandim juga mengapresiasi parah tokoh di Kobi yang gigih pertahankan kemerdekaan Indonesia dengan menyelamatkan bendera merah putih meski nyawa taruhannya.
"Tadi kita sama-sama mendengarkan dari pada ahli waris pelaku yang memperkenalkan bendera merah putih di Maluku dan khususnya Kobi. Bahwa orang tua merekalah yang memperkenalkan merah putih di daerah ini. Kemudian mereka mendapat tekanan-tekanan dan ancaman dari Repuplik Maluku Selatan. ini yang perlu diapresiasi," kata Dandim.