MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,- Pada Kamis 8 Desember 2022 menjadi kilas balik Festival Ma'atenu yakni atraksi cakalele berasal dari Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Maluku Tengah yang baru dilaksanakan setelah 13 Tahun vakum.
Festival sakral tersebut melibatkan lebih dari 1000 orang yang merupakan anak adat Negeri Pelauw.
Selain itu, terlihat sejumlah pejabat daerah baik Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Irjen Pol Lotharia Latif, Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Ruruh A Setyawibawa, Danlantamal IX/Ambon, Brigjen TNI Said Latuconsina, Kabinda Maluku, Penjabat Bupati Malteng, DR Muhamat Marasabessy, SP, ST, M.Tech, dan Anggota DPR RI Abdullah Tuasikal, Anggota DPD RI Mirati Dewaningsih, serta stakeholder lainnya turut menyaksikan festival sakral tersebut.
Sementara itu salah satu pejabat Daerah yakni Ketua DPRD Maluku Tengah, Fatzah Tuankotta juga turut ambil bagian sebagai salah satu pasukan cakalele.
Anggota DPR RI Abdullah Tuasikal juga turut mengapresiasi gelaran Festival Ma'atenu.
"Selaku Anggota DPR RI Dapil Maluku, saya sangat memberikan apresiasi atas terselenggaranya budaya Ma’atenu ini. Dan Kami tetap dukung festival adat ini agar terus dirawat oleh masyarakat dan Pemerintah Negeri dan juga didukung oleh Pemerintah Daerah," ujar Abdullah Tuasikal Anggota DPR RI Dapil Maluku yang turut menyaksikan atraksi sakral tersebut.
Abddullah Tuasikal yang juga anak asli Pelauw tersebut turut mengapresiasi warga Pelauw yang tetap menjaga keamanan dan ketertiban sehingga acara yang punya nilai historis itu tetap berjalan lancar.
Tradisi budaya yang menguji kekebalan tubuh menggunakan senjata tajam (parang) oleh masyarakat Negeri Pelauw ini berjalan aman dan lancar.
Lalu apa itu tradisi Cakalele yang disebut orang Pelauw dengan nama Ma'atenu?.
Berikut sejumlah catatan tentang Ma'atenu yang dikutip dari Kantor Bahasa Maluku Kemendikbud.
Bagi sebagian warga Pelauw, mereka
meyakini bahwa tradisi yang sudah
berlangsung ratusan tahun itu
adalah wujud dari jiwa keberanian
Syaidina Ali, sahabat dan anak
mantu Rasulullah yang terkenal
sebagai pemberani di medan perang.
Sehingga para lelaki yang mengikuti
ritual ma’atenu digambarkan sebagai
sosok para pejuang Islam pada
masa lampau.
Pelauw adalah tempat dilaksanakan ritual adat ma’atenu (cakalele) yang terletak pada kawasan pelataran adat Jazirah Hatuhaha (disebut juga Negeri Matasiri) di pulau Haruku.
Dalam struktur tata pemerintahan
Kabupaten Maluku Tengah, Negeri Pelauw merupakan ibu kota kecamatan di pulau seluas 150 km² tersebut.
Ritual ma’atenu dapat dikuti oleh semua pria yang telah akil baliq dan anak cucu Pelauw yang mempunyai keturunan darah dari Hatuhaha tanpa persyaratan yang
berat.
Syaratnya yakni bermodalkan keberanian, keyakinan akan kekuatan yang sudah ada dalam darahnya, dan restu orang tua, maka tubuhnya pasti kebal saat mengikuti ma’atenu.
Sebulan sebelum pelaksanaan ma’atenu, pemuka adat dan agama di Pelauw sudah menyiapkan upacara adat dengan memanjatkan doa di masjid kepada sang khalik dan para upu (leluhur).
Selama masa itu, kaum pria Pelauw sudah
bersiap-siap mengasah parang dan menyiapkan pakaian perangnya.
Kaum pria yang mengikuti ritual ini
jauh-jauh hari telah mempersiapkan
diri dengan membersihkan jiwa dari
segala kesalahan dan dosa yang dilakukan terutama kepada orang tua. Saat pelaksanaan ritual ma’atenu, kaum pria menuju rumah soa (marga) atau rumah pusaka.
Ketika para pria mereka keluar dari rumah soa, Kepala Soa akan memastikan kekebalan dengan cara menebas badan para pria dengan mengunakan parang yang paling tajam, yang telah diasah berulang-ulang selama satu bulan penuh.
Senjata tajam yang digunakan haruslah senjata tajam paling tajam karena jika tidak justru membuat badan menjadi sakit.
Menariknya, tubuh yang ditebas tidak
meninggalkan luka. Kalaupun ada, hanya tampak seperti garisan bekas sayatan benda tajam.
Dalam perjalanan, umumnya mereka berada dalam kondisi ka’a atau dikenal dengan sebutan kapitan sambil memperlihatkan kekebalan dan ketahanan tubuh menghadapi senjata tajam lewat atraksi ma’atenu.
Ka’a adalah kondisi raga yang kebal dari berbagai jenis senjata tajam seperti silet, kapak, dan pecahan beling. Ka’a tidak hanya terjadi pada pria yang mengikuti ritual ma’atenu saja, tetapi kondisi ini juga akan terjadi pada wanita atau orang- orang yang menonton adat ma’atenu.
Hal ini terjadi ketika mereka melihat orang yang mengikuti ma’atenu mempunyai hubungan saudara dengan mereka.
Sehingga di setiap jalan dipasangi kain salele (kain putih) untuk membatasi penonton dengan orang-orang yang mengikuti Ma’atenu. Dalam ritual ini para peserta ma’atenu wajib memakai ikat kepala putih, sedangkan penonton pria wajib memakai penutup kepala.
Dalam mengikuti ritual ma’atenu tidak selamanya peserta ma’atenu kebal terhadap senjata tajam. Ada pantangan atau larangan tertentu yang tidak boleh dilanggar, misalnya tidak ada izin dari orang tua atau ada petunjuk tetapi dilanggar. Apabila pantangan tersebut dilanggar, maka orang yang mengikuti ma’atenu akan terluka.
Setelah itu mereka berziarah ke makam para leluhur yang oleh warga setempat disebut keramat.
Prosesi pelaksanaannya terbagi dalam tiga kelompok besar yang menghimpun 13 soa di Negeri Pelauw. Tiga kelompok ini pergi menuju tiga rute yang terdapat keramat, yakni makam para upu yang diyakini sebagai Wali Allah, yakni orang-orang suci yang menyiarkan agama Islam.
Rute pertama dikenal dengan Keramat Matasiri atau Latu Rima terdiri atas Soa Sahubawa, Talaohu, Latuconsina, Latupono, dan Latuamury.
Rute kedua, yakni Keramat Waelurui terdiri atas soa Salampessy, Tuakia, Tualepe, Angkotasan, dan Tuankotta. Rute ketiga Keramat Hunimoki atau Waelapia terdiri dari soa Tualeka, Tuahena, dan Tuasikal.
Untuk sampai ke keramat dan peserta ma’atenu harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki untuk pergi dan pulangnya.
Keramat terjauh adalah Keramat Waelurui berjarak sekitar sembilan kilometer dan terdekat adalah Keramat Waelapia sekitar lima kilometer.
Sesampainya di Keramat, tetua adat memberi sesembahan berupa pinang, daun sirih, dan kapur. Setelah sesembahan diletakkan di tempatnya, tetua adat membakar damar dan berdoa kepada leluhur.
Terdengar sesekali para kapitan meneriakan shalawat nabi. Sebelum kembali lagi ke kampung, para pemuda memakan bekal yang dibawa dan dimandikan oleh para kapitan di sungai. Dalam perjalanan pulang, seluruh peserta ma’atenu mempertontonkan kebolehannya membacok anggota tubuhnya di
sepanjang perjalanan.
Setelah semua prosesi adat dijalankan di Keramat, kelompok Matasiri yang mengambil rute dari arah barat muncul di halaman masjid dengan tabuhan genderang perang membuat suasana menjadi panas sehingga membuat penonton turut ber-cakalele.
Selang 30 menit kemudian, kelompok Waelurui dari arah timur muncul dengan genderang perang yang tidak kalah ramai. Kelompok Waelapia muncul terakhir dari arah timur membuat suasana bertambah panas dan merinding.
Peragaan cakalele ini pun akhirnya berakhir di pelataran masjid. Untuk menghilangkan pengaruh kapitan yang masih melekat atau membekas, ibu-ibu dari tiap-tiap soa menyarungkan kain ma’alahe ke leher tiap-tiap pria yang ikut ma’atenu.