MALTENG, LIPUTAN.CO.ID,- Di erah yang sudah modern ini fasilitas pendidikan sudah seharusnya memadai dan nyaman dijadikan tempat menimbah ilmu. Namun ada satu bangunan sekolah di Maluku Tengah yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Sejumlah meja dan kursi berserakan tak teperhatikan. Buku-buku ajar hilang halamannya dimakan rayap. Tak ad arak buku di sana. Buku bergelatak senanya.
Gedung Sekolah Dasar (SD) YPPK di Desa Manusela, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku berdinding bamboo yang sudah dimakan usia. Jendela-jendela di sekitar dinding bolong. Berada di Pegunungan Mnusela, Seram, Maluku Tengah, Gedung sekolah ini tanpa plafon.
Sinar matahari menyelinap tegas di antara atap-atap daun sagu yang bertumpuk. Sengatannya menghujam ruang kelas yang beralas tanah. Sejumlah guru dan pengajar di sekolah ini tak malu menyebut sekolah ini begitu memperihatinkan.
SD YPPK Manusela didirikan oleh Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) sempat berdiri kokoh diatas ketinggian mencapai 870 meter dari permukaan air laut. Sekolah ini sempat menampung sekitar 55 murid terdiri dari 22 murid laki-laki dan 33 murid perempuan. Guru pun minim hanya berjumlah empat orang, masing-masing tiga tenaga honorer dan satu orang Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Staf Pemerintah Desa Manusela Apolos Maloy mengatakan setelah sekolah dibangun tak pernah mendapat sentuhan pendidikan dari yayasan maupun pemerintah setempat. Akibatnya, kata dia pendidikan di pegunungan Manusela terpuruk dan tertinggal jauh dari sekolah-sekolah di perkotaan.
“Selama ini, SD YPPK belum pernah mendapat bantuan apa-apa dari pihak yayasan sehingga akhir-akhir ini pendidikan disini kurang begitu memadai,”ujar Maloy melalui sebuah rekaman video yang diterima, Ahad 7 Mei 2023.
Maloy menyebut, meja dan kursi rusak dan belum diperbaiki namun anak-anak di pegunungan Manusela tetap mengikuti pelajaran meskipun memiliki keterbatasan demi meraih cita-cita mereka setinggi langit. Tak hanya itu, banyak buku-buku sudah termakan rayap dan bertebaran ke lantai akibat minimnya perhatian dan anggaran yang kurang nyata tak pernah dikucurkan ke sekolah.
“ Jadi SD disini tak layak lagi, kondisi pendidikan terpuruk, buku-buku termakan rayap bahkan kondisi sekolah mulai roboh,” ucapnya.
Ia mengaku setiap tahun anak-anak di pegunungan Manusela sempat mengikuti Ujian Nasional (UN) di Desa Moso, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah. Mereka, kata dia sempat melewati hutan belentara, perbukitan hingga menyeberangi sungai demi meraih cita-cita setinggi langit.
Untuk itu, ia berharap pihak yayasan dan pemerintah setempat tak menutup mata terkait kondisi pendidikan di Desa Manusela, sebuah desa terisolasi di pedalaman pulau seram, Maluku. Mereka meminta pemerintah segera mengalihkan status sekolah dari yayasan ke negeri sehingga bisa diperhatikan dari sisi anggaran.
Sementara para siswa mengaku khawatir kala bersekolah dengan kondisi hujan dan angin kencang pasalnya bangunan sekolah yang sudah berusia dan bahan bangunan memakai bambu dan papan sangat mudah terancam roboh. Untuk itu, mereka memeinta pemerintah segera memperbaiki sekolah sehingga mereka bisa bersekolah dengan baik.