oleh

Dampak Covid-19 Terhadap Sosial Demografi Masyarakat

Oleh: M. Rismawan Ridha, SST

Statistisi Pertama Badan Pusat Statistik
Kabupaten Maluku Tengah

Jika sebagian besar diantara kita menganggap bahwa pandemi Covid-19 telah berakhir, maka hal ini adalah suatu kesalahan yang besar. Paradigma yang salah ini kian mencuat sejak dikenalnya istilah “New Normal”. Masyarakat awam menganggap bahwa istilah ini sama halnya dengan kondisi baru dimana seakan-akan sudah tidak ada lagi virus Covid-19. Penggunaan masker, himbauan untuk rutin mencuci tangan hingga memakai handsanitizer tidak lebih dari sekedar angin lalu. Sejak diumumkannya kasus positif terinfeksi Covid-19 di Indonesia, Pemerintah telah melakukan berbagai langkah yang responsif, serta berusaha memberikan landasan berbasis ilmiah untuk menciptakan kebijakan yang tepat sasaran dalam mengatasi pandemi Covid-19. Badan Pusat Statistik, lembaga resmi penyedia data bagi pemerintah, telah melakukan suatu survei yang bertujuan untuk menangkap berbagai dampak adanya pandemi Covid-19 terhadap fenomena sosial demografi masyarakat di Indonesia.

Survei Sosial Demografi dampak Covid-19 (dapat diakses pada https://covid-19.bps.go.id/ ) dirancang dengan menggunakan metodologi kombinasi dari Convenience, Voluntary, dan Snowball Sampling untuk mendapatkan respon sebanyak mungkin dalam kurun waktu 1 minggu pelaksanaan survei. Indikator yang diamati dalam survei Covid-19 yakni Indeks perilaku ketaatan dalam mematuhi protokol kesehatan, yang terdiri dari pengetahuan dan penerapan physical distancing, memakai masker, kebiasaan mencuci tangan baik dengan sabun maupun handsanitizer, hingga tingkat kekhawatiran terhadap kondisi Covid-19.

Dari hasil survei tersebut, sekitar 87% responden mengaku telah mengetahui kebijakan physical distancing, namun hanya sekitar 72% responden yang selalu melakukan atau teratur menjaga jarak. Untuk kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan handsanitizer, 8 dari 10 responden mengaku bahwa mereka sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik. Sedangkan, 6 dari 10 responden mengaku bahwa mereka rutin menggunakan handsanitizer. Dalam perihal cuci tangan, responden berjenis kelamin perempuan lebih disiplin dibandingkan responden berjenis kelamin pria.

Menarik untuk dicermati lebih lanjut, pandemi Covid-19 telah membuat perubahan besar dan menciptakan ketidakpastian di kehidupan masyarakat. Keharusan untuk mengisolasi diri dan ketidakpastian kapan akan berakhirnya pandemi Covid-19 mempengaruhi tingkat kekhawatiran masyarakat. Misalnya, saat keluar rumah, 69,4% responden merasa sangat khawatir akan kesehatan dirinya jika ia harus beraktivitas di luar rumah. Serupa dengan hal itu, mayoritas responden, yang mencapai 65% mengaku sangat khawatir dengan kondisi pemberitaan mengenai pandemi Covid-19 yang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan mental mereka.

Dari berbagai indikator yang telah dijelaskan, dapat dibentuk suatu indeks perilaku ketaatan yang merupakan nilai rataan dari berbagai himbauan selama masa pandemi Covid-19. Indeks dengan rentang nilai 0 – 10 diklasifikasikan pada kelompok-kelompok umur tertentu. Indeks perilaku ketaatan memberikan nilai yang bervariasi pada berbagai kelompok umur, namun cenderung meningkat sesuai dengan tingkatan usia. Mereka yang berusia <20 tahun memiliki nilai indeks ketaatan sebesar 7,3. Kelompok usia 31-35 tahun memiliki nilai indeks sebesar 7,7 dan kelompok usia 56-60 tahun memiliki nilai indeks sebesar 8,1. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa semakin tinggi usia responden, semakin taat responden dalam berperilaku memenuhi himbauan (masker, cuci tangan, physical distancing, dll). Hal ini diduga karena semakin tinggi usia responden, maka semakin tinggi tingkat kekhawatiran terhadap dampak pandemi pada dirinya.(*)

Komentar