oleh

Wabah COVID-19: Antara Kesehatan atau Ekonomi?

Oleh :

M. Rismawan Ridha, SST
(Statistisi Pertama Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tengah)

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini dunia sedang dilanda krisis multidimensional karena wabah virus Corona. Corona Virus Disease 2019, atau biasa disebut dengan COVID-19 adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Tidak tanggung-tanggung, bahaya virus Corona bisa menyebabkan kematian.

Bahkan, pasien yang terinfeksi dan sembuh akan mengalami kerusakan permanen pada paru-paru dan sistem antibodi.

Jika dalam beberapa minggu yang lalu mungkin kita masih dapat melaksanakan aktivitas seperti biasanya, bekerja di kantor, bersilaturahmi dengan keluarga dan sanak saudara, beraktivitas di luar rumah, namun semuanya berubah seiring dengan merebaknya wabah COVID-19.

COVID-19 ini memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi hingga memaksa sebagian besar negara di dunia untuk menutup aktivitas ekonominya, dengan harapan dapat mencegah kematian akibat COVID-19.

Efek domino tidak dapat dihindari

Pemerintah diberbagai jenjang pun memberlakukan Sosial Distancing dan menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Warga dilarang bepergian keluar daerah, dilarang berkumpul, diwajibkan menggunakan masker jika keluar rumah, dan diajak untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Pembatasan Sosial jelas memberikan dampak yang nyata bagi melesunya perekonomian, baik akibat berkurangnya permintaan (demand shock) karena menurunnya pendapatan masyarakat, maupun berkurangnya aktivitas produksi (supply shock).

Kita dapat melihat secara langsung banyaknya sektor-sektor ekonomi yang terdampak seperti sektor akomodasi dan jasa makanan dan minuman, perdagangan retail dan besar, hingga industri manufaktur dan properti. Dalam dari pada itu, telah terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.

Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan, sudah lebih dari 1,5 juta orang yang telah kehilangan pekerjaan imbas dari pandemi Corona. Dari total tersebut, 10,6% diantaranya kehilangan pekerjaan akibat di PHK, sedangkan 89,4% lainnya karena dirumahkan.

Antara Kesehatan atau Ekonomi

Wabah COVID-19 memberikan 2 (dua) fokus besar bagi pemerintah yakni memperkuat sistem fasilitas dan infrastruktur kesehatan agar mampu mengatasi virus Corona, dan pemulihan ekonomi secara berkala.

Hal ini memang menempatkan pemerintahan di mana pun pada pilihan kebijakan yang sulit. Apa yang mesti dikerjakan lebih dulu? Menekan penyebaran kasus COVID-19 atau menyelamatkan perekonomian.

Kedua pilihan kebijakan yang saling bertolak belakang: antara kehilangan nyawa atau terciptanya pengangguran.

Banyak narasi yang diusung terkait trade off antara mana yang harus didahulukan. Mengutip pernyataan Presiden Ghana “We know how to bring the economy back to life, what we do not know is how to bring people back to life”, “Kita tahu bagaimana caranya memulihkan kembali ekonomi, yang kita tidak tahu adalah bagaimana caranya menghidupkan kembali orang yang telah meninggal” adalah sesuatu yang patut diapresiasi untuk mengutamakan kesehatan (kemanusiaan) dibandingkan ekonomi.

Mengatasi masalah kesehatan dan ekonomi sama pentingnya, namun ada skala prioritas yang harus segera dilakukan. Jika wabah virus Corona ini tidak segera diselesaikan, maka kita akan dihadapkan pada kemungkinan resesi ekonomi yang lebih buruk. Sebaliknya, dengan meredakan penyebaran virus Corona, kita dapat memulai kembali ekonomi dengan lebih efektif.

Pemerintah harus bekerja keras untuk memperkuat fasilitas kesehatan daerah. Memperbanyak alat rapid tes dan melakukan tes sebanyak mungkin ke masyarakat secara gratis, menyediakan APD (Alat Pelindung Diri) bagi tenaga medis dan Ventilator yang memadai, hingga memperbanyak ruang isolasi terstandar.

Dengan berbagai mekanisme alokasi dan penghematan anggaran daerah dan juga bantuan dari pemerintah pusat, hal ini diharapkan dapat segera direalisasikan agar mimpi kita bersama untuk mengatasi wabah COVID-19 dapat terwujud.

Prevention is better than cure, especially when there is still no cure. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, apalagi disaat belum ditemukannya pengobatan untuk Wabah COVID-19 ini.

Komentar