oleh

Dua Terdakwa Kasus Illegal Logging Serut Divonis Ringan, Ini Tanggapan Jaksa

MALTENG, LIPUTAN.CO.ID-Hakim Pengadilan Negeri Masohi memvonis ringan dua Terdakwa kasus Illegal Logging, Dusun Solea Negeri Wahai, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku tengah (Malteng).

Dua terdakwa yang diputus ringan itu  masing-masing Juanda Pacina dan Hasannudin.

Pacina divonis dengan hukuman 3 tahun penjara dan denda 500 juta rupiah subsider 3 bulan. Sementara Hasannudin diputus hukuman penjara 1 tahun 5 bulan dan denda 500 juta rupiah subsider 3 bulan.

Keduanya divonis Majelis Hakim dalam persidangan dengan Agenda Putusan yang digelar di Pengadilan Negeri Masohi, Selasa Malam, 27 April 2020.

Sidang putusan kasus Illegal Logging dengan Terdakwa Juanda Pacina dan Hasannudin, dipimpin Hakim Ketua Agus Hardianto didampingi dua hakim anggota, masing-masing Rifai R Tukuboya dan Mawardi Rifai.

Kepada Wartawan, Humas Pengadilan Negeri Masohi, Rifai R Tukuboya menyebutkan, Putusan Majelis Hakim sudah sesuai dengan peran dan perbuatan kedua Terdakwa.

“Sebetulnya tidak ringan, sebab sudah sesuai dengan peran mereka dalam kasus ini. Hasanuddin dalam kasus ini bertindak sebagai operator penebang kayu di lokasi HPH yang dalam tuntutan JPU adalah 2 tahun. Sementara untuk terdakwa Juanda Pacina Majelis tidak sependapat dengan JPU, yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan tuntutan 9 tahun penjara atas dugaan pelanggaran Pasal 94 ayat 1 junto pasal 19 huruf A undang undang nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan pengrusakan hutan,” jelas Tukuboya.

Majelis Hakim menilai Juanda Pacina dalam kasus tersebut, hanya melanggar Pasal 87 Ayat 1 huruf a Junto Pasal 12 UU 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan pengrusakan hutan.

“Terdakwa Juanda Pacina menurut majelis Hakim bahwa, Ia melangar  pasal 87 ayat 1 huruf a junto pasal 12 huruf k, undang undang nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan pengrusakan hutan. Yang mana Terdakwa hanya berperan sebagai pihak yang menerima dan menjual kayu dari pihak pemilik HPH, bukan mengatur proses penebangan,” urai Tukuboya.

Dikatakan, pertimbangan Majelis Hakim terhadap peran Terdakwa didasarkan atas pemeriksaan saksi dan proses persidangan. Sehingga hakim menilai, Pacina melanggar Pasal 87 ayat 1 huruf a junto pasal 12 huruf K undang undang nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan pengrusakan hutan.

Terhadap putusan tersebut Kepala Kejaksaan Negeri Maluku Tengah, Juli Isnur, mengatakan, penyidikan kasus Illegal Logging di Desa Solea, yang digarapnya, terbukti secara hukum dengan divonisnya dua dari lima terdakwa yang diusut itu.

“Yang penting terbukti dulu,” singkat Isnur menanggapi putusan Hakim, saat diminta tanggapan Liputan.co.id, Via pesan WhatsApp, Rabu 29 April 2020.

Putusan Hakim terhadap dua Terdakwa tersebut tidak sesuai dengan tuntutan Jaksa. Bahkan satu Terdakwa yakni Pacina yang dituntut 9 tahun kurungan oleh JPU, namun hanya divonis 3 tahun kurungan oleh Majelis Hakim.

Terkait dengan sikap Jaksa akankah ajukan banding terhadap putusan itu, Isnur mengatakan, pihaknya menunggu  konsultasi dengan Kejaksaan Tinggi Maluku, sebelum memutuskan sikap terhadap vonis 2 Terdakwa. “Kami konsultasikan dulu ke Kejati,” tandasnya.

Untuk diketahui Kasus Illegal Logging yang selama ini ditangani Penyidik Kejaksaan Negeri Malteng hanya menetapkan 5 tersangka. Masing-masing Juanda Pacina pemilik Somil Inaji di Wahai Seram Utara, Hasanuddin Operator Sensor, Vence Purimahua salah satu staf Dinas Kehutanan Provinsi Maluku, Riky Apituley pemilik HPH di Solea, serta Abdullah Pengusaha atau Pembeli Kayu Hasil illegal Logging.

Dua dari lima tersangka yang ditetapkan penyidik Kejari Malteng itu kini telah diputus Majelis Hakim Pengadilan Negeri Masohi. Sedangkan tiga lainnya, sementara menjalani persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi.

Komentar