oleh

Selebrasi Pengibaran Bendera RMS, Sebuah Lelucon dan Pain In The Ass

MALTENG, LIPUTAN.CO.ID-Selebrasi menjadi kata yang tepat untuk peristiwa tersebut, biasanya bentuknya hanya menaikkan bendera dari tahun ke tahun, tapi tahun ini agak unik, mereka melakukan selebrasi dan lebih unik adalah dalam Video aparat TNI hanya menonton. Tapi cuplikan video tidak menggambarkan seutuhnya kondisi yang terjadi.

Selebrasi ini menarik karena dilakukan semacam pawai, kelompok ini memiliki sejarah yang panjang, dilihat dari peserta selebrasi tersebut banyak dari kalangan milenial yang terlibat, sehingga tentu kondisi tersebut menunjukkan terjadi “ideologisasi” entah berbentuk mimpi-mimpi harapan dan propaganda kekecewaan atas kondisi republik saat ini, atau semangat lain yang terus didengungkan dari generasi ke generasi. Dan itu menjadi masalah utama dalam selebrasi bendera tersebut. Bagaimana bisa terjadi proses regenerasi tersebut?

Ini asumsi pertama.

Bisa juga asumsi bahwa kelompok yang ingin mendirikan negara baru ini merupakan setingan kelompok elite tertentu. Bagaimana tidak kelompok ini semacam lelucon saja, apabila ingin mendirikan negara mereka harus menentukan siapa Rakyatnya, manakah batas wilayahnya, siapa pemerintahnya, bahkan tentunya mempunyai tentara yang akan memperjuangkan sikap mereka, hingga pengakuan dari negara lain, (bahkan isis pun tidak diakui negara) dan yang ada sampai saat ini hanyalah bendera. Gerakan Politik macam apa yg melakukan langkah seperti ini. Dan terjadi setiap tahun. Kemungkinan besar terdapat kelompok elit entah dari mana yg terus mendapatkan keuntungan dari peristiwa tahunan macam ini. Baik di dalam dan luar negeri. Sehingga selebrasi tersebut atau pengibaran bendera tahun tahun sebelumnya menjadi bukti laporan “kesuksesan” mereka. Tapi selalu yang menjadi tumbal adalah “prajurit” lapangan yah.

Bagi negara baik intelejen maupun penegak hukum ini adalah tamparan karena tidak dilakukan pencegahan. Mungkin dengan banyak pertimbangan baik sosial, kondisi wabah saat ini, atau ini memang masalah kecil yang hanya terjadi setahun sekali. Jadi yah dibiarkan saja. Intinya akan ada penangkapan beberapa orang dan nanti menunjukkan bahwa negara sudah bekerja. Tapi, sekelas teroris yg bergerak secara diam diam saja negara mengetahui siapa jaringannya, sekelas bandar narkotik saja negara mengetahui sel selnya, baik melalu komunikasi hingga pergerakan dananya. Akan aneh apabila kelompok selebrasi ini tidak dapat terungakap jaringannya. Selama tindakan hanya pada Para selebrator terebut tidak akan menghentikan sebuah sistem yang terus bergerak. Dapat dipastikan setiap tahunnya akan ada selebrator atau penngibar bendera akan hadir baik karena motif ekonomi atau motif ideologis atau hal lainnya.

Negara harus hadir

Permasalahan Selebrasi ini menunjukkan bahwa negara belum maksimal hadir, pertama hadir dalam ekonomi meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial, kedua hadir dalam ruang partisipasi yg mendorong perubahan sebuah identitas dan kepemilikan sebagai bagian dari indonesia. Negara belum maksimal mengkounter “ideologisasi” kelompok ini pada generasi milenial. Negara masih kurang tegas dalam memutus mata rantai jaringan komplotan ini.

Lelucon pain in the ass

Pada akhirnya semua langkah selebrasi ini hanyalah bagian dari pertunjukan, ada yg diuntungkan, ada yg emosi, tapi ini pasti adalah sebuah lelucon dalam dinamika berbangsa di indonesia. Lucu karena merka selalu hadir setiap tahun, lucu karena gerakan makar ini tidak punya bentuk utuh hany menjaga ritme saja. Lucu karena pembiaran yg terjadi.
Jadi selama lelucon ini tidak di seriusi, maka sama halnya “pain in the ass” yang selalu hadir setiap tahun. Kita tidak senang tapi terus hadir. Bagaikan lingkaran. Ya lingakaran lelucon. Sudah saatnya selamatkan rakyat khusunya para milenial, konter ideology, buka lapangan kerja, cari aktornya, follow the money, putus jaringannya, dan tahun depan tidak ada lagi selebrasi atau pengibaran bendera macam ini. MIP (Muhammad Ilham Putuhena)

Komentar