oleh

Penetapan Vence Tersangka Ilegal Loging disebut Prematur, ini Tanggapan Jaksa

MALTENG, LIPUTAN.CO.ID-Tersangka Ilegal Loging Seram Utara, Vence Purimahua, lewat kuasa hukumnya Wahyudin Ingratubun menyebut, penetapan klainnya sebagai tersangka adalah prematur.

Hal itu disampaikan Ingratubun saat gelar jumpa pers usai mendaftarkan praperadilan terkait status tersangka yang disematkan Kejari Malteng ke kalinnya, Kamis 5 Maret 2020.

“Menurut kami penetapan klien kami sebagai tersangka adalah langkah prematur dan arogan serta salah prosedur. Oleh sebab itu, kami perlu ambil langkah hukum mengugat penetapan status hukum klien kami oleh penyidik,” ujar Ingratubun.

Menurutnya, alasan jaksa menetapkan kliennya sebagai tersangka dalam kasus ini salah satunya adalah dengan tuduhan melakukan kolaborasi atau turut bersama sama merencanakan kegiatan ilegal loging adalah tuduhan yang tidak benar dan prematur.

Dikatakan, kliennya adalah satu-satunya pihak yang ditetapkan penyidik Kejari Malteng, sementara 3 tersangka lainnya ditetapkan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Balai Gakum.

“Bagaimana klien kami bisa dituduh bersama-sama melakukan perencanaan atau bersama-sama mengatur rencana aktivitas ilegal loging di Dusun Solea. Jika benar, semestinya klien kami sejak awal sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh PPNS,” ucapnya.

Sementara itu, Kajari Maluku Tengah, Juli Isnur saat gelar Coffee Break bersama awak Media, Senin 9 Maret 2020, menanggapi santai penyebutan penetapan Vence sebagai tersangka adalah prematur sebagaimana dikatakan Ingratubun. “Kalau soal penetapan (Vence sebagai) tersangka disebut prematur, itu hak dari penasehat hukum,” Kata Isnur.

Namun lanjut eks Kajari Natuna itu bahwa, pihaknya memiliki dua alat bukti yang kuat untuk menjerat Vence Cs. Sehingga dia meyakini apa yang telah diputuskannya dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. “Yang jelas kami dalam hal ini Jaksa Penyidik, memiliki dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan Vence cs sebagai tersangka,” tambah Isnur menegaskan.

Isnur juga membantah pernyataan kuasa Hukum Vence bahwa, penyidik Kejaksaan hanya menetapakan satu tersangka yakni Vence Purimahua, sementara empat lainnya telah ditetapkan Gakkum sebelum diserahkan berkasnya ke Jaksa.

“Tidak benar, dari Gakkum itu satu tersangka yakni Hassanudin dengan 6 kubik kayu sebagai alat bukti. Dan saa itu kami telaah ini perlu kami ambil alih selidiki pihak lain. Sehingga hasilnya, pemilik HPH (Riky Apitule), Pemilik Somil (Jhon Pacina), Pemodal (Abdullah) dan Oknum PNS (Vence), itu kami yang tetapkan,” jelas Isnur.

Isnur disela itu berharap dukungan Media Massa, agar pihaknya berantas kasus ilegal loging di Seram hingga tuntas. Menurutnya kasus ilegal loging di Maluku Tengah sudah kelewatan.

“Kami tetap tegas dan tidak pandang bulu (berantas ilegal loging), mohon doa dukungan teman-teman (wartawan). Selama ini ilegal loging di Malteng sudah sangat keterlaluan. Maka ketika saya pimpin (Kajari), saya bilang ke teman teman ayo, Kita berantas ilegal loging ini, kita tunjukan ke masyarakat bahwa masalah ini kita tidak main-main. Maka kita tidak main mainlah, kita tanpa ragu, pemilik HPH ( Direktur PT Talisan Emas), Somil, pemodal dan salasatu ASN yang kami anggap terlibat kami tetapkan tersangka dan kami tahan. Ini bukti komitmen kami,” tukas Isnur.

Sebagai informasi, besok Selasa, 10 Maret 2020, Pengadilan Negeri Masohi gelar sidang Praperadilan terkait status tersangka ilegal loging Vence Purimahua.

Vence lewat kuasa hukumnya mendaftarkan praperadilan Kejari Malteng di PN Masohi pada tanggal 5 Maret 2020. Perkara tersebut terdaftar dengan nomor perkara 1/Pid.Pra/2020/PNMsh.

Komentar