oleh

Kajari Malteng Rencana Jenguk Alfiah Penderita Gizi Buruk

MASOHI, LIPUTAN.CO.ID-Prihatin dengan kondisi Alfiah, balita penderita gizi buruk yang saat ini dirawat oleh kedua orang tuanya di rumah, Kepala Kejaksaan Negeri Maluku Tengah (Kajari Malteng) Robinson Sitorus bersama staf rencana jenguk Alfiah usai Ibadah Jum’at 19 Juli 2019. Tepat di Lorong Bambu Kuning RT 8 Kelurahan Namaelo, Kecamatan Kota Masohi, Maluku Tengah.

“Saya dan para staf rencana kunjungi Alfiah penderita busung lapar, selesai jum’at nanti,” kata Sitorus disela-sela acara jalan sehat menyongsong Hari Bhakti Adhyaksa ke 59, Jum’at pagi tadi 19 Juli 2019.

Sitorus mendapat informasi tentang Alfiah yang saat ini berumur 2 Tahun 10 bulan itu, lewat media Online. Seperti diketahui, Alfiah sudah empat kali keluar masuk RSUD Masohi. Kedua orang tua Alfiah Siti Rahmat (26) dan Samsudin (30) berasal dari keluarga tidak mampu.

Kondisi Alfiah saat ini sangat lemas dan badannya kurus. Ia tidak bisa berdiri. Berat badan Alfiah saat ini 8,9 kilo gram.

Alfiah didiagnosa menderita Gizi buruk dan penyakit komplikasi.
“Keterangan dokter bahwa dia gizi buruk, komplikasi, paru-paru impeksi, pembengkakan lambung hati dan limpah besar itu kata dokter Diana dan Dokter Herry waktu itu,” tutur Siti kepada Liputan.co.id, 18 Juli 2019, sambil menjelaskan keterangan itu disampaikan Dokter, saat Fiah masuk RS untuk pertama kalinya.

Siti mengungkapkan bahwa, anaknya sudah sakit sejak tahun 2017. Dan saat itu ia dan suaminya pertama kalinya membawa Alfiah ke RSUD Masohi untuk dirawat per bulan Maret 2017 dan dirawat selama kurang lebih tiga Bulan.

“Sudah empat kali saya dan suami bawa Fiah ke RSUD Masohi Ruang Melati. Waktu masuk (RSUD) pertama, anak saya dirawat disana bersamaan dengan saya melahirkan anak saya yang kedua. Saat itu suami bertemu dengan pa Deksi (Sekretaris RSUD Masohi) untuk minta keringanan biaya melahirkan Dan dikasih,” tutur Siti.

Siti juga menjelaskan selama ia melahirkan adik Fiah bernama Faruk (1,2 Tahun) di RSUD Masohi, ia hanya keluarkan 800 ribu untuk biaya perawatan anaknya.

Sementara Siti tidak dibebani Biaya karena dikasih keringanan. Terhadap Alfiah juga demikian. Namun dia katakan, selama tiga bulan Fiah dirawat hingga pulang, pihak Rumah Sakit tidak meminta biaya perawatan.

“Kami tidak diminta biaya saat keluar Rumah Sakit. Cuman waktu dirawat mereka beri kami resep obat untuk beli diluar. Misal obat VipAlbumin waktu itu tidak ada di Rumah Sakit dan kami disuru beli di luar,” ungkapnya.

Karena tidak punya biaya yang cukup, obat yang dibeli Siti dan suaminya tidak sesuai dengan jumlah obat yang diminta.

“kalau (dokter) suru beli satu trep yang isi sepuluh butir, kami kadang beli 4 atau 3 butir sesuai dengan kemampuan. Satu sterps 10 butir obat VipAlbumin, harga 90 ribu,” ucap siti.

“Saat Alfiah kami bawa ke Rumah Sakit untuk yang kedua kalinya kami sudah memakai BPJS Mandiri. Sampai masuk untuk yang ke Empat kalinya kami masih memakai BPJS,” jelasnya.

Samsudin dan Siti saat ditanya kenapa tidak membawa Alfiah ke Rumah Sakit untuk yang ke lima kalinya. Keduanya mengatakan tidak punya biaya. Sementara uran BPJS selama 6 bulan tidak dibayar.

“Tidak punya biaya, Kami tidak bayar BPJS selama enam bulan. Karena suami selama enam bulan belum punya uang. Suami saya melaut bersama orang kalau dapat rejeki hanya untuk makan,” ungkap Siti.

Siti mengatakan saat ini ia dan suami tidak bisa berbuat banyak untuk anak mereka. “Pengen anak kami ini sembuh tapi ini keadaan kami. Mudah mudahan kami diberi jalan,” kata Siti.

Loading...
loading...

Komentar