oleh

LBH Pers Ambon: Pemberitaan Media Massa di Maluku Terkait Pemilu Masih Netral

AMBON, LIPUTAN.CO.ID-Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Ambon merilis hasil risetnya tentang analisis pemberitaan Media Massa di Maluku terkait Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden 2019.

Dalam riset LBH Pers Ambon selama kurang lebih tiga bulan dari Maret hingga Juni 2019 yang menganalisis 500 konten berita dari sejumlah Media Online dan Cetak di Maluku yang paling banyak diakses, LBH pers kemukakan Media di Maluku masih terbilang netral.

Dikatakan secara kualitatif, konten pemberitaan tentang Pilpres dan Pileg 2019 masih netral.

“Media masih bersikap netral dalam mengangkat pemberitaan seputar Pilpres dan Pileg 2019. Isu-isu yang diangkat oleh media masih berada dalam kategori yang realistis,” kata Sekretaris LBH Pers Ambon, Ikbal Taufik dalam rilis persnya yang diterima Liputan.co.id, Kamis 5 Juli 2019.

Ikbal menjelaskan, metode riset yang dipakai adalah purposive sampling. Yakni teknik pengumpulan data menggunakan aplikasi Notify (media online) dan RED (media cetak) Purposive sampling adalah salah satu teknik sampling non random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian.

“Segi kuantitas, porsi pemberitaan tentang pasangan Jokowi-Ma’ruf di beberapa media, lebih banyak daripada Prabowo-Sandiaga karena posisi petahana,” jelasnya.

LBH juga menemukan pemberitaan mengenai Pilpres dan Pileg 2019 terbagi dalam topik. Yakni Paslon 01, paslon 02, pileg dan umum ( golput, lembaga penyelanggara Pemilu, KPU dan Bawaslu).

Netralitas dan objektifitas Media Massa kata Ikbal, menampilkan postur Media Massa sebagai sumber informasi penting bagi publik atas rekam jejak, visi misi dan program pembangunan yang diusung.

“Ada kesadaran media massa sebagai sarana pendidikan politik penting bagi publik. Karena ada kesadaran internal ruang redaksi terkait beragam isu dan hoax yang merajalela di media sosial, namun tidak secara masif diterima media massa. Ada proses cek dan ricek.
Misalnya Isu politik identitas yang berlangsung selama proses kampanye, terkait agama yang gencar memapar media sosial namun di enam media massa di Maluku hal ini tidak terjadi,” tandasnya.

Independensi dan netralitas dalam isi berita, judul provokatif tapi isi realistis. Kepemilikan media dan korelasinya dengan isi pemberitaan media, di Maluku, tidak terlihat secara masif keberpihakan Media Massa tertentu pada kecenderungan memihak calon tertentu.

“Meski jadwal iklan pasangan capres-cawapres Pilpres dan Pileg 2019 di media massa, Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru mengizinkan pada 24 Maret 2019 hingga 13 April 2019, namun iklan tidak secara gencar dilakukan oleh Media Massa. Iklan tidak mendominasi media massa.

“Kecenderungan kampanye Pemilu Damai lebih dominan daripada pemberitaan terkait saling tuding dalam proses pemilu di Maluku” tandasnya

Atas hal itu, LBH Pers berkesimpulan, hasil riset dalam proses Pemilu 2019, Media Massa di Maluku mulai memahami pentingnya fungsi edukasi bagi masyarakat, terutama terkait isu politik identitas yang dimainkan dalam proses pemilu 2019.

Komentar

Loading...