oleh

Mochtar dan Susi Tersangka Penipuan Rekrutmen Pegawai PLN

MASOHI, LIPUTAN.CO.ID-Polres Maluku Tengah menetapkan Mochtar Makasar (MM/MO) dan Susi Paeng (SP) sebagai tersangka penipuan rekrutmen pegawai PLN.

Hal itu dikatakan Kapolres Maluku Tengah, AKBP Radja Arthur L. Simamora saat gelar Press release bersama sejumlah Awak Media di Mapolres Maluku Tengah, sore tadi, Jum’at, 14 Juni 2019.

“Mochtar Makasar (MO) dan Susi Paeng (SP) telah kami tetapkan sebagai tersangka penipuan rekrutmen pegawai PLN,” kata Simamora yang didampingi Kasat Reskrim AKP Syahirul Awab.

Mohtar dan Susi diringkus polisi dua hari lalu setelah penyidik mempelajari laporan dugaan penipuan yang dilaporkan oleh dua orang sebagai korban penipuan diantaranya, Yusran Rumbia dan R Marasabessy.

Dalam pengembangan awal, polisi mengantongi tiga bukti permulaan yang cukup yang dimiliki Naken, Yusran Rumbia dan R Marasabessy.

Simamora menjelaskan, rekrutmen pegawai PLN bukan berasal dari PT PLN nanum itu hanya akalan MO bertindak sebagai penyedia jasa rekrutmen. MO saat menjalankan aksinya memang mengemban jabatan sebagai Manejer Non Teknis di PT Haleyora Powerindo (HPI) Area Masohi.

PT Haleyora Powerindo adalah anak Perusahaan PT PLN (Persero) yang bergerak di bidang pengamanan layanan Operasi dan Pemeliharaan (Ophar) pada jaringan transmisi tegangan menengah, tegangan rendah dan jaringan distribusi listrik.

Namun keterangan Kapolres yang mendapatkan informasi dari Pihak PLN bahwa PT Haleyora Powerindo di Masohi, hanya bertindak sebagai vendor atau suplier.

“Bahwa Tersangka MO kariawan PT Haleyora Powerindo. PT Haleyora Powerindo Itu bukan anak Cabang PT PLN. Tapi itu vendornya PT PLN. Saya sudah koordinasi dngan pihak PLN,” ujar Simamora.

Sementara Susi Paeng yang saat ini juga berstatus sebagai PNS Aktif di Dinas Perumahan Maluku Tengah itu, bertindak sebagai perekrut calon pegawai PLN.

“SP itu tugasnya mencari orang untuk direkrut. MO dan SP menjalankan aksinya sejak Tahun 2017. Waktu itu berdasarkan keterangan Mo, bahwa MO menyampaikan kepada SP tentang adanya pembukaan rekrutmen tenaga kerja dengan catatan setiap orang atau dalam hal ini korban dibebankan uang masuk sebesar Rp.15 juta,” jelasnya.

Permintaan Rp.15 Juta per orang, ditindak lanjuti SP. Namun kepada sejumlah korban, SP meminta uang tanda jadi atau bakal diterima sebagai kariawan PLN sebesar Rp.35 Juta per orang.

“Dari permintaan Rp.15 juta, tersangka SP buat nominal Rp.35 juta per orang. Pemungutan 35 juta diakui oleh 17 orang yang menjadi korban penipuan. 17 korban itu telah dimintai keterangan oleh penyidik,” jelas Simamora.

Ditambahkan Semenjak dilakukanya penyelidikan hingga penyidikan terhadap kasus tersebut, berdasarkan laporan 3 orang dan hasil pengembangan, Penyidik sudah mengidentifikasi setidaknya ada 48 orang menjadi korban.

“Total yang menjadi korban sebanyak 48 orang. Namun hingga saat ini kita baru dapat laporan 17 korban yang juga menyerahkan kwitansi dan bukti tranfer uang uang yang pernah dikasih kepada Tersangka.

“Yang sudah dicek ke 17 korban semuanya dibebankan 35 juta. Kalau dihitung berdasarkan standar pungut yang dilakukan SP per korban 35 juta, dikalikan 48 orang maka total kerugian bisa sebesar 1,6 Miliar,” jelasnya.

Berdasarkan pengakuan Mochtar, kata Simamora, selama ini uang yang ia dapat dari hasil penipuan itu sebesar Rp.600 juta lebih. Uang sebagian dipakai Mochtar untuk beli metic sebanyak tiga buah dan sudah disita Penyidik. Sementara uang yang didapat Susi sebesar Rp.685 juta, dipergunakan SP untuk beli tanah di Masohi, Emas setengah kilo gram.

“Mereka setelah dinyatan diterima sebagai kariawan PLN. Mereka (korban) bekerja selama 2 bulan di beberapa UPT PLN. Namun mereka tidak pernah mendapat gaji,” tambahnya.

Atas perbuatan Susi dan Mochtar, mereka dikenakan Pasal 372 atau 378 tentang tindak pidana penggelapan dan penipuan dengan ancaman hukuman penjara 4 tahun.

“Saat ini baru dua tersangka dimungkinkan bisa bertambah. kami juga akan membuka ruang lagi untuk mengetahui keterlibatan pihak lain,” tutup Simamora.

Loading...
loading...

Komentar