LIPUTAN MALTENG

Teknologi

Media Harus Ramah Anak, Stop Kekerasan Anak Lewat Pemberitaan

SURABAYA, LIPUTAN.CO.ID-Masih banyaknya pengungkapan identitas anak dalam pemberitaan kekerasan seksual menjadi perhatian serius sejumlah kalangan, salah satunya Dewan Pers. Sehingga atas hal tersebut Dewan Pers dan sejumlah pihak telah menyusun Pedoman Pemberitaan Ramah Anak.

Indonesia sudah meratifikasi konvensi hak anak dan membuat Undang-Undang Perlindungan Anak. Anak sebagai generasi penerus harus dilindungi dari berita negatif agar dapat tumbuh normal dan tidak terkena trauma akibat pemberitaan.

Anggota Dewan Pers Hendry CH Bangun, berharap media maupun wartawan dalam menerbitkan berita tentang kasus kekerasan terhadap anak, harus serius memperhatikan identitas anak untuk tidak diekspos.

Dalam butir satu pedoman Pers Ramah Anak, kata CH Bangun,  Wartawan merahasiakan identitas anak dalam memberikan informasi tentang anak khususnya yang diduga, disangka, didakwa melakukan pelanggaran hukum atau dipidana atas kejahatannya.

“Diusahakan pemberitaan tentang kasus kekerasan seksual anak, baik sebagai pelaku korban dan saksi, jangan disebutkan identitas diri, orang tua, hingga lokasih anak. Bahkan publis lokasih kejadian hanya sebatas kecamatan,” kata Hendry dalam Konvensi Nasional media Massa yang membahas tentang Pers Ramah Anak, Jum’at 8 Februari 2019 bertempat Balroom Sheraton Hotel, Suarabaya, Jawa Timur.

Tidak hanya soal batasan indentitas kekerasan anak, Bangun nenandaskan Wartawan harus memberitakan secara faktual dengan kalimat atau narasi atau visuaI atau audio harus bernuansa positif, empati dan tidak membuat deskripsi atau rekonstruksi peristiwa yang bersifat seksual dan sadistis.

“Biasanya wartawan menulis kasus kekersan seksual anak  ada lima sampai 10 alinea. Sekarang harus pemberitaan paling maksimal 3 atau 4 alinea sudah cukup. Karena pemberitaan soal kasus kekerasan seksual anak tidak harus dieksploitasi,” tandas Mantan Sekjen PWI itu.

Sementara itu dalam kesempatan tersebut, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi
mengatakan, media ramah anak tidak hanya dilihat dari sebuah kejadian kekerasan, tetapi paling penting media harus hadir dengan pendidikan anak yang standar yakni mempublis etika.
“Media sering kurang ramahan anak. Dari laporan masuk ke kita, yakni Kekerasan media terhadap anak. Ini yang saya heran Media jutruk melakukan kekerasan dengan publikasih kasus kekerasan anak yang terlalu fulgar. Media hanya mau beritakan tpi kurang melindungi,” tandas Pria yang disapa Kak Seto itu.

Selain media kata Kak Seto, Kadang orang tua menginginkan anak lebih ke Ilmu Pengetahuan dan Teknologi padahal kata dia, pendidikan karakter itu harus diutamakan pada anak. “Yang harus dibangun sopan santun kejujuran dan lainnya,” singkatnya.

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

To Top