LIPUTAN MALTENG

News

Bayi Penderita Sindrom Meromelia Ini, Butuh Tangan Dermawan

Muhammad Yusran saat digendong bapaknya. (KAYUM/Liputan.co.id)

MASOHI, LIPUTAN.CO.ID-Terlahir berbeda, mungkin hal itu yang dialami bayi satu ini. Adalah Muhammad Yusran, bayi laki-laki dari pasangsn Ahmad Kiwang dan Irmawati yang terkena sindrom meromelia harus berjibaku melawan kesakitan akibat virus sindrom meromelia masih membuntutinya hingga ia berusia 1,4 tahun.

Akibatnya bayi mungil itu harus dirawat di RSUD Masohi karena menderita pembengkakan pada kaki kirinya penyebabnya berkaitan dengsn virus tersebut. Tak hanya itu kata kedua orang tuanya, saat Muhammad dilahirkan di RSU yang sama, pihak dokter pernah mengatakan Muhammad mengalami kebocoran pada jantung dan paruh.

Kedua orang tua Muhammad juga diminta pihak RSUD Masohi untuk segera dirujuk ke Ambon kala itu, untuk melakukan penanganan lebih lanjut usai Muhammad dilahirkan oleh ibunya Irmawati.

Namun karena kendala biaya Irmawati dan suaminya Ahmad kiwang memutuskan untuk merawat Muhammad di rumah.

Seiring jalannya waktu,
Muhammad yang lahir prematur dengan kondisi sebagian anggota tubuh tidak sempurna jantung dan paruhnya berangsur pulih dan tidak lagi alami kebocoran.

Terkait dengan kesakitan yang kini dialami Muhammad, Kata Dokter Malawat pembengkakan pada kaki kiri Muhammad berpeluang untuk diamputasi. Apa bila hal itu terjadi Muhammad harus tumbuh dewasa tanpa kedua kaki. “Kalau penyembuhan itu harus perlu alat psikoterapi ya. Maksudnya pergelangan kakinya harus dikoreksi alias dibebaskan dari tercekik ini kalau tidak pasti akang membusuk dan akhirnya amputasi,” ujar Malawat saat ditemui Liputan.co.id saat ia memeriksa kondisi Muhammad di Ruang melati RSUD Masohi, Minggu 20 Januari 2019.

Saat Muhammad Yusran digendong Bapaknya Ahmad Kiwang, (Kayum/Liputan.co.id).

Malawat menuturkan bahwa Muhammad dimasukan ke RSUD Masohi untuk perawatan karena rasa sakitnya makin parah.

“Muhammad masuk kesini rsu karena kesakitan dipergalangan kaki yang mencekik area peregelangan. Akhirnya peredaran dari dari tubuh bahagian atas tidak bisa mengalir sempurna ke kaki begitupun sebaliknya. Mudah-mudahan ini setelah dikoreksi (area tercekik di pergelangan kaki). Namun nanti kita pulihkan Homoglobinnya dulu setelah itu kita bebaskan area ini. Kalau tidak dibebaskan ini kaki yang bengkak ini akan terus bengkak dan membusuk,” jelasnya.

Sementara Irmawati menuturkan bahwa Muhammad saat dilahirkan memang prematur dan Sindrom meromelia sehingga anggota tubuhnya baik jari tangan dan kakinya tidak sempurna sebagaimana bayi pada umumnya.

“Dia lahir prematur memang. Dan dokter saat itu memeriksa anak saya bahwa jantung dan paruhnya alami kebocoran. Dan kami disankan merujuk anak saya ke Ambon. Tapi apalah daya kami tidak punya uang cukup akhirnya anak kami ini kami rawat dirumah. Tapi Alhamdulillah anak saya pulih dari kebocoran itu. Dan anak saya kini dirawat lagi di RSUD ini untuk pulihkan kakinya yang terus alami kesakitan,” jelas Irmawati.

Muhammad saat dimasukan ke RSUD kurang lebih seminggu berstatus pasien umum. Ia dan keluarganya punya BPJS kesehatan mandiri namun karena tidak mampu untuk menyetor tiap bulan akhirnya kartu BPJS mereka tidak aktif.

“BPJS kami sudah tidak aktif karena tidak setor. Kami ingin anak kami sembuh. Meski dengan segala kekurangan saat ini.  Apa mau dikata demi penyembuhan anak kami terpaksa kami berani untuk bawa anak kami ke sini dengan segala kekurangan,” ujar Irmawati dengan mata berkaca-kaca.

Kondisi yang dialami orang tua Muhammad menjadi perhatian Komunitas Sahabat Nahla yang sering membantu pasien berkekurangan dengan penyakit langkah, mengambil inisiatif untuk  menggalang dana guna membantu mengaktifkan BPJS kesehatan milik keluarga Irmawati. Selain itu Sahabat Nahla dibawa Koordinator Nengsih Kiledar terus menggalang dana untuk biaya perawatan Muhammad.

“Jika ada yang ingin membantu Muhammad Yusran bisa langsung berkunjung ke RSUD Masohi. Namun jika ingin menyumbang sedikit rejiki untuk Muhammad lewat tranfer bank, bisa dilakukan melalui nomor rekening 4971-01-012924-53-4 BRI atas nama Nengsih Keledar,” kata Nengsi Kiledar.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

To Top